Perjalanan piano usang..
Tak ada yang tampak istimewa darinya, namun tetap berprinsip untuk memainkan nada.
Selalu kubawa erat di dada, membawanya kemanapun aku bebas memainkannya.
Entah sendiri, atau bersama dosa-dosaku yang menari-nari.
Mereka selalu melihatku tertawa, dan memandang penuh hina.
Aku tetap mendentingkan setiap irama.
Hanya ini satu-satunya yang aku punya.
Sesuatu yang kalian nilai rapuh, dan tak istimewa.
Apa peduliku?
Aku tetap memainkannya dengan menggebu.
Menghibur takdir yang selalu berjalan beriringan denganku.
Kali ini, bolehkah aku memainkannya untukMu sebagai rasa syukurku?
